BEP sangat berguna untuk yang ingin melakukan usaha karena dapat menganalisis banyaknya jumlah unit yang diproduksi atau berapa banyak produk yang harus dijual untuk mendapat setidaknya titik impas.
Untuk mengetahui BEP, Anda harus mengetahui beberapa hal, yaitu :
Fixed Cost. Adalah biaya tetap yang setiap bulan selalu rutin sebagai pengeluaran contohnya biaya tenaga kerja atau biaya penyusutan.
Variabel Cost. Adalah biaya yang berbeda tergantung dari volume produk yang dihasilkan, contohnya biaya bahan baku atau biaya air dan listrik.
Selling Price. Harga jual per unit yang ditetapkan.
Contoh Rumus untuk mengetahui Break Even Point (Titik Impas)
Diketahui :
Biaya Tetap Rp 7.000.000
Biaya Variabel per unit Rp 8.000
Harga Jual per unit Rp 10.000
Laba yang diharapkan Rp 3.000.000
Ditanya :
Break Even Point ?
Berapa barang yang harus di jual untuk mendapat laba yang diharapkan ?
Jawab :
Penghitungan BEP Unit
BEP = FC / (P – VC)
BEP = Rp 7.000.000 / (Rp 10.000 – Rp 8.000)
BEP = 3500 unit (Titik impas saat perusahaan menjual 3500 unit)
Perhitungan Laba yang diharapkan
Laba = (FC + Target Laba) / (P – VC)
Laba = (Rp 7.000.000 + Rp 3.000.000) / (Rp 10.000 – Rp 8.000)
Laba = Rp 10.000.000 / 2000
Laba = 5000 unit (Perusahaan harus menjual 5000 unit untuk laba yang diharapkan)
Suka Dengan Artikel Ini ?
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Akuntansi
dengan judul "Pengertian Break Even Point (BEP)". Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL https://catatan-ilmu-akuntansi.blogspot.com/2015/04/pengertian-break-even-point-bep.html.
0 komentar "Pengertian Break Even Point (BEP)", Baca atau Masukkan Komentar
Posting Komentar